Astinapura : Kesatria Sang Punggawa

 


Syahdan. Di ruang balairung kerajaan Astinapura, Terdengar suara lirih. Nyaris tak terdengar. Tenggelam bersamanya angin. 


“Daulat, tuanku. Hamba harus sampaikan kepada tuan Raja Astinapura. Perkenankan hamba apabila dianggap begitu lancang. Menjawab titah dari tuanku, Kata sang punggawa. Wajah tertunduk. Matanya merah menahan amarah. 

“Hamba perkenankan”, jawab sang Raja. Wajahnya begitu penasaran. Mengapa titah Sang raja tidak ditunaikan sang punggawa. 


“Daulat, tuanku. Yang hendak hamba sampaikan adalah bentuk pengabdian kepada Daulat tuanku. Sekaligus bentuk kecintaan hamba kepada Negara Astinapura”, lagi-lagi sang punggawa mengatupkan tangan didada. Tanda bakti kepada Sang Raja. 


“Menurut penilaian hamba, tuanku. Titah tuanku tidak mungkin dilaksanakan. Negeri Astinapura begitu penting dipertaruhkan. 


Sebaiknya tuanku kembali bertapa. Untuk meminta restu dari sang Dewata”, sembah punggawa. 


“Ada apakah gerangan, sang punggawa ?”, tanya sang raja heran. 


“Tuanku, titah yang tuanku berikan malah akan menimbulkan kegemparan ditengah rakyat Astinpura. 


Titah tuanku akan melawan kodrat negeri astinapura yang dikenal sebagai negeri yang gemah ripah. Tenang negeri di Anak muda”, sambut sang punggawa. 


“Baiklah, sang punggawa. Pertimbanganmu baik juga untuk kebaikan negeri. 


Begitulah seharusnya punggawa bertugas. Menjaga negeri. Agar negeri aman sentosa”, kata sang Raja sembari meninggalkan balairung Istana Astinapura. 


Suasana kembali sunyi. 

Memoar
Memoar Catatan yang disampaikan adalah cerita yang bisa dibaca..